Ganti Judul dan ALt sendiri

Cerita Di Balik Ruang Praktek Dokter Poli VCT

Dokter AIDS

Tanggal merah awal bulan ini kami kedatangan tamu istimewa. Sepupu suami berkunjung ke rumah pagi itu. Katanya sedang jalan-jalan sambil mencari pesanan ibunya. Karena melintasi daerah dekat kami, makanya disempatkan mampir. Akhirnya jadilah pagi itu sebagai momen silaturahmi yang berharga.

Awalnya agak canggung juga mau ngobrolin apa. Nostalgia masa-masa saat Bapak mertua masih ada jadi topik utama. Memang Bapak sangat peduli dengan keponakan-keponakannya, jadi hingga beliau tiada masih banyak hal berkesan yang menjadi memori bagi keluarganya.

Saya merasakan silaturahim itu memang membawa keberkahan. Meski satu kota, kami jarang bertemu. Kunjungan yang disengaja seperti ini jadi lebih mendekatkan antara kami. Saya teringat di awal tahun sempat bertemu beliau di tempat kerjanya. Saya menyapanya, dan satu jam berikutnya jadi momen berkesan bagi saya dan anak-anak. Kami diajak shalat di masjid yang terletak di rooftop melalui lift khusus karyawan, lanjut ditraktir di kafe RS.

Namanya Mbak Nana (sebut saja demikian). Sepupu suami ini adalah seorang dokter. Saat suatu kunjungan di RS, saya sempat melihatnya masuk ke poli VCT. Karena merasa asing dengan poli itu, di pertemuan pagi itu sekalian saja saya menanyakannya.

Mengenal Klinik VCT


Poli HIV Aids

Memang benar mbak Nana adalah dokter yang sehari-hari bekerja di klinik VCT. VCT adalah singkatan dari Voluntary, Counselling and Testing. Klinik apa sih itu? Ternyata itu adalah poliklinik untuk pasien HIV.

Mengutip dari situs Alodokter VCT atau voluntary counselling and testing adalah layanan konseling dan tes HIV yang dilakukan secara sukarela (KTS). Layanan ini bertujuan untuk membantu pencegahan, perawatan, dan pengobatan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

HIV/AIDS masih menjadi persoalan kesehatan, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pada tahun 2021 diketahui ada sekitar 427 ribu ODHA di Indonesia dengan 61 ribu orang di antaranya meninggal dunia.

Wah, apa nggak bahaya bekerja di tempat seperti itu? Setiap hari menangani pasien HIV? Ternyata selama tidak ada kontak darah dan cairan tubuh lain, InsyaAllah aman.

Dari cerita mbak Nana tentang aktivitasnya dalam menangani pasien HIV, dokter di sini sangat besar peranannya dalam menasehati dan menuntun pertobatan pasien. Memangnya pasien HIV selalu orang “nakal”? Sebagian besar iya. Ada juga korban yang tidak tahu-menahu. Dia mendapatkan penyakit itu dari pasangannya yang sempat “khilaf”.

Jadi, selain melakukan tes, konsultasi seputar HIV, tugas mbak Nana adalah menelusuri penyebab pasien tertular HIV. Di bagian ini perannya seperti detektif yang melakukan interogasi kepada pasien. Ada pasien yang langsung mengaku “habis ngapain aja”, dan ada pula yang jawabannya muter-muter dulu baru mau mengaku telah melakukan hal yang menjadi penyebab tertular HIV.

Tentu butuh kesabaran ya menghadapi beraneka jenis pasien dengan berbagai latar belakang. Saya bertanya, ada berapa dokter mbak yang menangani klinik VCT. Jawabannya membuat saya melongo.

“Ya saya sendiri. Mana ada yang mau di bagian ini? Poli ini tu dikenal sebagai poli “Madesu” (Masa Depan Suram). Jadi ya Cuma saya dan asisten perawat” mbak Nana menjelaskan sambil tertawa.

Tapi poli ini bekerja sama dengan poli Penyakit Dalam dan poli Penyakit Kulit dan Kelamin. Jadi untuk penanganan klinis terkait penyakitnya, bisa konsultasi dengan kedua poli itu.

Poli VCT

Ya Allah mbak, semoga sabar ya dan jadi catatan amal ibadahmu di sisi Allah. Kalau melihat mbak Nana sebagai dokter senior yang lembut dan sabar memang pas aja beliau pegang poli VCT. Bisa jadi tempat curhat pasien yang menenangkan. Apalagi dengan penampilan mbak Nana sehari-hari yang berpakaian longgar dan jilbab lebar, dan tutur katanya yang halus, definisi ketemu dokter plus Ustadzah nih, siap bertobat.

Nasehat mbak Nana kepada kebanyakan pasiennya ya harus mau bertobat dan minum obat rutin kalau mau sehat. Penderita HIV memang tidak bisa sembuh total, tapi bisa sehat dan hidup normal asal bertobat dan melakukan pengobatan secara rutin.

Kebanyakan pasien mbak Nana masih HIV tahap awal, jadi bisa diobati. Namun, ada juga yang sudah sampai menjadi AIDS. Itu ceritanya, pasien tersebut lama tidak kontrol, katanya mengkonsumsi herbal Papua secara mandiri tanpa pantauan dokter. Waktu sudah parah dan menjadi AIDS, badan sudah kurus sekali, baru balik lagi berobat. Kalau seperti ini sudah sulit untuk sehat dan hidup normal.

Latar Belakang Pasien HIV

Obrolan tentang pasien-pasien mbak Nana memang menarik. Saya yang merasa sudah lama tidak mendengar tentang isu HIV jadi bangkit rasa ingin tahu saya. Kebetulan banget, biidznillaah kan bisa berhadapan langsung dengan konsultan HIV.

Selanjutnya saya menanyakan tentang latar belakang pasien mbak Nana. Bagaimana mereka bisa tertular HIV.

Homoseks

Pasien dari jenis homoseks adalah penyebab terbanyak penderita HIV. Para waria atau non waria yang hidup bebas berganti pasangan ini bisa dibilang adalah sumbernya virus jahat tersebut. Bisa kebayang nggak gimana mbak Nana sounding untuk tobat ke pasien jenis ini. Nggak Cuma mengingatkan agar berhenti demi kesehatannya semata, tapi juga agar tidak makin menyebarkan virus ke orang lain.

Banyak di antara mereka yang memang pekerja seks. Tapi ada juga cerita memilukan tentang pemuda atau masih anak-anak di kampung-kampung pinggiran seperti itu yang menjadi korban. Diiming-imingi uang entah bagaimana akhirnya terjebak.

Remaja

Ada kisah seorang remaja putri terkena HIV. Ya, itu dari hasil hubungan di luar nikah. Alasannya karena dia ingin mendapatkan uang buat beli hape baru, baju baru, biar nggak ketinggalan tren dengan teman-temannya. Sedih sekali tentu mengetahui hal ini.

Lansia

Ada pasien mbak Nana seorang lansia berusia 82 tahun. Tapi beliau terkena HIV pada umur 79 tahun. Sebelumnya saya berpikir mbak Nana punya opsi lain penyebab pasien ini mengidap HIV. Masa iya kakek-kakek mau aneh-aneh? Tapi dengan pengetahuan dan pengalamannya, mbak Nana pantang menyerah agar kakek tersebut mengakui perbuatan yang pernah dilakukannya. Ish ish, menginterogasi orang tua bagaimana jurusnya ya?

Sang kakek akhirnya mengakuinya. Beliau pernah mencoba pijat plus-plus. Subhanallah. Wejangan pertobatan kali ini lebih mudah diterima tentunya. Sepak terjang setan memang harus diwaspadai hingga akhir hayat kita.

Bayi

Saya tertarik menanyakan tentang pasien HIV yang sedang mengandung. Berarti bayinya nanti kena HIV juga? Biasanya apabila wanita mengandung mengidap HIV, pasien tersebut harus selalu dalam pantauan medis. Dan apabila melahirkan, wajib melahirkan di Rumah Sakit yang sudah ditunjuk.

Saat bayi baru lahir, maka akan langsung mendapatkan obat HIV. Apabila mengikuti arahan medis, minum obat sejak lahir, maka biasanya si bayi setelah beberapa bulan bisa bebas dari HIV.

Paramedis

Salah satu risiko menjadi paramedis adalah tertular HIV dari pasiennya. Dalam sebuah kasus yang pernah dalam pantauan mbak Nana. Seorang bidan membantu kelahiran pasien HIV. Seharusnya pasien tersebut melahirkan di RS yang telah ditunjuk. Namun ternyata beliau melahirkan lebih awal dan di luar rencana.

Sayang sekali pasien tersebut tidak mengatakan kalau beliau pasien HIV. Beberapa waktu setelah melahirkan, RS mengetahui ada pasien yang dalam pantauannya melahirkan di luar RS. Jadi, penelusuran terhadap nakes yang membantu persalinan dilakukan. Bu Bidan yang tidak tau menahu sebelumnya, tentu shock mendengar beliau telah membantu kelahiran pasien HIV. Akhirnya Bu Bidan meminta akses ke obat HIV dan serangkaian tes.

Meski saat menangani pasien selalu menggunakan sarung tangan, pernah berinteraksi dan memegang darah serta cairan tubuh pasien HIV tentu membuat khawatir.

Kalau hal berkesan apa yang pernah mbak Nana alami selaku dokter VCT? Mbak Nana bercerita pernah bertemu dengan pasien yang ternyata anak temannya. Jadi, temannya saat tau dokter yang menangani adalah mbak Nana, sekalian curhat sambil menangis.

Cerita berbagai latar belakang pasien HIV yang rata-rata akibat melakukan dosa besar zina membuat miris dan pedih hati. Inilah sedikit potret hukuman langsung yang tertangkap lensa seorang dokter poli VCT. Dan ini adalah realita di masyarakat sebuah kota metropolis Surabaya. Semua itu secara tidak langsung berkaitan dengan aspek sosial budaya dalam masyarakat itu sendiri.

Jumlah Penderita HIV

Saya penasaran berapa jumlah pasien mbak Nana setiap hari. Poli VCT sepertinya poli kecil. Saya menduga pasiennya sekitar 2-5 orang per harinya. Tapi saya salah. Pasien harian mbak Nana antara 15-20 orang.

Dibanding poli lain yang puluhan tentu ini jumlah yang sedikit. Tapi mengingat yang ditangani ini pasien dengan masalah penyakit yang serius, jumlah segitu menggambarkan keadaan masyarakat yang bukan main-main.

Berdasarkan informasi dari surabaya.go.id jumlah pasien HIV di Surabaya sejumlah 663 pada tahun 2022 lalu. Jumlah terbanyak adalah kaum pria dengan penyebab utama homoseksual. Apakah 2024 jumlahnya makin menurun atau justru meningkat?

Apa Kabar Iklan Layanan Masyarakat Tentang HIV?

Demi mendengar penuturan mbak Nana tentang penyakit HIV, saya jadi teringat sebuah iklan layanan masyarakat tentang HIV AIDS di TVRI saat saya kecil dulu.

Iklan itu menggambarkan sekumpulan anak muda yang naik mobil Jeep bareng. Ada laki dan perempuan berpakaian jaket kulit hitam. Kemudian ada seorang perempuan yang turun dari Jeep dan berkata:....ada batas yang ga boleh dilanggar”

Waktu itu saya tau itu adalah iklan tentang HIV AIDS karena ada keterangannya, tapi nggak tau apa maksud dari cerita muda-mudi yang hangout bareng itu. Nggak ngerti juga apa maksud dari kata-katanya. Nah sekarang jadi ngerti apa maksudnya.

“Mbak, ngomong-ngomong kok sekarang ga pernah lagi ya lihat iklan layanan masyarakat tentang HIV AIDS seperti dulu? Mengingat ternyata kasus penyakit ini ternyata masih banyak”

“Itu tergantung dari kebijakan pemerintahnya dek. Kalo pemerintah sekarang memang lebih ke arah mengobati. Kalau pemerintah jaman Pak Harto dulu lebih ke preventif” begitu kira-kira jawaban mbak Nana.

Nah, saya auto speechless. Whattt??! Ya, setuju kalau mengobati itu penting dan wajib. Tapi, bukankah preventif itu jauh lebih baik? Masyarakat mudah lupa, jadi bukankah harus selalu diingatkan? Apalagi dengan kehidupan serba bebas yang mengikis nilai-nilai moral dan agama di zaman ini. Mestinya peringatan resmi pemerintah akan memberi andil besar dalam mencegah semakin rusaknya moral bangsa.

Obrolan pagi itu di satu sisi membuat bahagia karena mengeratkan hubungan persaudaraan di antara kami. Namun di sisi lain ada perasaan ngilu mengetahui undercover of our real society. Bisa jadi ada orang sekitar kita yang juga mengalaminya.

Mbak Nana, seorang muslimah tangguh yang mengabdikan diri menangani pasien dengan label “madesu”, semoga selalu ikhlas, sabar, dan Allah berikan perlindungan. Di poliklinik tempat isak tangis dan pengakuan dosa itu, jejakmu terukir di hati para pasienmu dan keluarganya. Kau bukan saja seorang dokter tapi juga teman bagi mereka, teman yang membimbing ke jalan hidup yang lebih baik.




Post a Comment

Ingin memberi tanggapan atau saran? Silahkan drop di comment box. Terima kasih!