Ganti Judul dan ALt sendiri

Belajar Kehidupan dan Tauhid Dari Ibu


Belakangan ini, setiap ada kesempatan pulang kampung, saya lebih banyak termenung. Otak saya secara sadar mulai menilai banyak hal di sekitar. Hal-hal yang dulu tidak saya perhatikan, sekarang malah menyita perhatian. Tampaknya momen pulang ke rumah orang tua di desa menjadi kesempatan untuk belajar kehidupan lebih banyak. Dan salah satu sumber saya belajar adalah dari Ibu.

Ibu makin terlihat sepuh. Keriputnya makin terlihat. Tulang pipinya makin nampak menonjol. Saya melihat Ibu saat ini seperti melihat Embah saya dulu. Inilah yang membuat saya banyak terdiam saat berada bersama Ibu. 

Waktu yang berlalu tanpa saya sadari sepenuhnya membuat saya terpaku. Saya menua, Ibu Bapak juga menua, tapi rasanya tidak ada kesiapan dalam diri menghadapi fase ini.

Saya merasa kosong dan tak berguna. Rentetan kelalaian dalam perjalanan hidup saya membayangi. Sungguh, yang tersisa hanyalah perasaan tak berguna.

Meski Ibu saya secara fisik terlihat banyak berubah, tapi dari suaranya, tertawanya, pikirannya, semangatnya, dan ibadahnya, masih seperti Ibu 20 tahun lalu. Di 67 tahun usianya, hari-harinya masih aktif. Mengurus sawah, kebun, dan aneka tanamannya di rumah setiap hari. Memasak, bersih-bersih, masih memelihara ayam juga. Masih bisa mengurus masjid dan organisasi Ibu-Ibu. Ibadahnya makin kenceng.

Tak ada hari-hari santai rebahan. Tetap cak-cek, habis selesai ini mengerjakan itu. Tak ada waktu yang sia-sia. Saya kalah telak dalam hal ini bila dibandingkan dengan Ibu.

Di balik kehidupan Ibu yang serba teratur dan penuh manfaat itu, ada beberapa hal yang saya pelajari dari kehidupan beliau. Beberapa hal di antaranya berkaitan dengan kebergantungannya kepada Allah. Suatu bentuk pengamalan Tauhid yang nyata.

Bersungguh-sungguh Meminta Pada Allah

Teringat kembali cerita Ibu di masa saya masih sekolah dulu. Saat itu Ibu bercerita tentang do'a-do'a Ibu yang terkabul. Ibu punya banyak mimpi besar dan kumpulan keinginan kecil yang hendak diwujudkan.
 "Pokoke Nduk, Ibuk ki nyuwun tenanan nyang Gusti Allah. Ibuk shalat tahajjud, ndungo terus" 
Seperti itu kira-kira cerita Ibuk. Dan Allah Yang Maha Pemurah mengabulkan banyak do'a Ibu, dari dulu hingga kini. Beberapa do'anya tentu saja untuk anak-anaknya.

Ibu telah memberi saya pelajaran kehidupan bahwa kita hanya manusia yang punya banyak keterbatasan. Tapi kita punya Allah tempat menggantungkan segala bentuk rupa kehidupan kita pada-Nya.

Apa yang Ibu ajarkan tersebut telah lama terpatri dalam kalbu saya. Apalagi setelah memahami beberapa petunjuk dari Allah melalui ayat-ayatNya. Seperti ayat kedua dalam surat Al-Ikhlash: Allohush shomad yang artinya Allah tempat bergantung segala sesuatu. Ayat ini menjadi motto atau quote istimewa dalam hidup saya.

Kemudian, kalimat Hauqolah: Laa haulaa wa laa quwwata illaa billaah (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Ini juga berarti bahwa kita hanya bisa bergantung kepada Allah. Semakin kuat keyakinan saya bahwa hanya kepada Allah lah kita bisa meminta apa saja.

Bersyukur Karena Pertolongan Allah Yang Luar Biasa

Tulisan ini sebenarnya tercetus dari ide yang muncul saat saya ngobrol dengan Ibu tadi. Obrolan singkat itu mengembarakan pikiran saya untuk mengingat pelajaran serupa.

Ibu bercerita tentang rasa syukurnya karena beliau beberapa kali jatuh yang cukup fatal, tapi Allah masih memberikan kesehatan. Tak henti-hentinya Ibu mengucapkan rasa syukurnya kepada Allah. Kata Ibu banyak orang sepuh yang mengalami jatuh dan menjadikannya sebagai jalaran sakit parah. Karenanya menurut Ibu ini nikmat Allah yang sangat luar biasa, mengingat hingga saat ini Ibu masih sehat dan bisa beraktivitas.

Saya kembali teringat dengan amalan sholih Ibu. Ibu suka berbagi, ibu suka berdzikir dan mengaji. Mungkin hal-hal tersebut menjadikan salah satu hal penghalang dari musibah (tolak bala')

Menjaga Shalat

Kalau saya dan anak-anak sedang berada di rumah Ibu, yang harus saya sounding berulang kali ke anak-anak adalah kalian harus shalat tepat waktu di masjid. Dengan masjid di halaman rumah, menjadikan orang tua kami sebagai takmir dan pengingat waktu shalat yang tegas.

Bila melihat di sepanjang perjalanan kehidupan Bapak Ibuk, ujian hidup selalu hadir silih berganti. Tapi bersama segala kesulitas, ujian, musibah itu, Allah selalu hadirkan banyak pertolongan. Tampak nyata di mata saya, wujud aplikasi dari ayat Qur'an berikut ini.

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS. Al Baqarah: 45).

Allah Ta’ala juga berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al Baqarah: 153).

Kepada siapa saya belajar tentang pentingnya shalat? Dalam buku agama dan ceramah kajian Ustadz tentunya. Tetapi kalau implementasi nyata menjaga keistiqomahan shalat, orang tua saya adalah contoh di depan mata saya.

Menjadi Sekuat Ibu, Mungkin kah?

Hal yang membuat saya tak bisa berkata apa-apa dan merasa kerdil adalah bahwa saya secara kualitas ibadah, kekuatan, keistiqomahan, disiplin masih sangat jauh dari Ibu. Meski dari Ibu dan Bapak saya belajar kehidupan dan Tauhid yang luar biasa berharga, melihatnya langsung, mendapatkan pengajaran dan pendidikan langsung, tapi saya masih sangat jauh dari orang tua saya. Semoga kesadaran ini makin mengkristal dan menjadikan trigger bagi saya untuk lebih serius dalam memperbaiki diri. Renungan singkat ini akan menjadi reminder di kemudian hari. Kalau kalian, Teman Fillaah, pelajaran hidup paling berharga apa yang bisa diambil dari Ibu atau Ayah? Saya siap menyimaknya.


4 comments

Ingin memberi tanggapan atau saran? Silahkan drop di comment box. Terima kasih!
  1. Masya Allah, tabarakallah... Senang bisa berkenalan dengan ibu kemarin. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan ya, Mbak.

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah mbk... Nangis saya baca ini "Saya melihat Ibu saat ini seperti melihat Embah saya dulu". Kebetulan hari ini ibu saya kerumah mengunjungi saya yg sedang sakit. Sudah beberapa bulan sejak saya sering drop sakit saya tidak bertemu ibu. Dan saya baru sadar, waktu begitu cepat berlalu. Hanya beberapa bulan tidak bertemu. Sy merasa ibu terlihat lebih tua, saya ajak ngobrol sudah tidak nyambung. Sepertinya tidak begitu jelas mendengar. Ya Allah..

    ReplyDelete
  3. Betul sepakat sekali mb. Apa yang dituliskan jadi refleksi buat diri ini. Orang tua semakin menua. Sedangkan sampai saat ini merasa belum cukup membahagiakan orang tua. Semoga kita termasuk anak-anak yang berbakti buat orang tua kita.

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete