Ganti Judul dan ALt sendiri

Bonding Ibu dan Anak Melalui Tanaman

Ini cerita antara saya dan ibu. Beberapa waktu lalu secara tidak sengaja saya menyadari bahwa antara saya dan ibu terbangun bonding ibu dan anak melalui tanaman. Ya, tanaman membuat kekakuan yang kadang ada di antara kami menguap seketika. Berganti dengan keseruan obrolan dan canda tawa. Melalui cerita sederhana ini, semoga Teman Fillaah bisa memetik hikmahnya.

Hubungan ibu-anak antara saya dan ibu bukanlah tipe bestie. Kami tidak seperti Tante Muren dan Maudy Ayunda yang selalu terlihat kompak dan serasi. Saya bukan anak yang selalu menceritakan kesenangan atau masalah saya ke ibu. Saya menghormati ibu dan berusaha mengikuti petuahnya. Ibu adalah orang tua yang tegas dengan aturan dan nilai-nilai baik. Kalau anak jaman now mungkin menganggap ibu saya jenis ortu konservatif.

Saya tentu saja tidak peduli dengan istilah seperti itu. Bagi saya ibu adalah orang yang sudah berjuang keras sejak saya kecil untuk memberikan kehidupan yang baik bagi saya. Saya tau ibu selalu mendoakan saya, bahkan mendoakan suami dan anak-anak saya. Ibu adalah seorang yang kuat menjaga ibadah-ibadahnya. Bahkan ibu adalah orang yang sering mengingatkan tentang agama dan akhirat di lingkungan keluarga dan teman-temannya.

Sayangnya, saya dan ibu sama-sama termasuk orang yang lemah dalam hal komunikasi. Apalagi karena lama tidak bertemu. Padahal semakin bertambah umur, baik saya maupun ibu, rasanya pingin banget banyak ngobrolin apa saja. Tapi karena jarak dan kemampuan komunikasi tadi, rasanya kalau pas bertemu atau ngobrol via telepon, video call, seperti kehabisan ide ngobrol dan tiba-tiba merasa kikuk sendiri. Masa ngobrol sama ibu bisa tiba-tiba ga tau mau ngomong apa, suasana menjadi kaku dan mati gaya gitu, aneh kan?

Sampai kemudian, suatu hari saya menyadari ada tema obrolan antara saya dan ibu yang bikin kami auto nyambung, memecah segala kekakuan, dan bahkan bisa membuat kami tertawa tergelak bersama seperti sahabat. Tema obrolan tersebut adalah tentang tanduran alias tanaman.

Bincang tanaman via WhatsApp

Waktu itu saya tengah declutter galeri handphone. Saya menghapus foto-foto lama di hp yang sudah tidak terpakai, daripada memenuhi ruang penyimpanan mending dihapus saja.

Aksi bersih-bersih terhenti manakala melihat beberapa foto tanaman. Itu foto kiriman ibuk (saya lebih enak memanggil Ibuk, bukan ibu^^) melalui chat WhatsApp. Saya urungkan menghapusnya. Saya telusuri foto tanaman lain dari ibuk, menandainya, dan memindahkannya ke folder kebun ibuk.

Berikut ini beberapa foto yang ibuk kirimkan melalui WA kepada saya. Hingga kini topik obrolan kami saat chat masih sering seputar tanaman.

Bunga Bangkai di Kebun Belakang

Bonding Ibu dan Anak
Bunga Bangkai Suweg di Kebun Ibuk

Seingat saya foto ini adalah foto tanaman yang pertama kali ibuk kirimkan melalui WA. Ibuk bertanya ke saya ini bunga apa. Ibuk  bercerita saat sedang bersih-bersih di kebun belakang tiba-tiba mencium bau bangkai yang menyengat. Karena mengira itu bau bangkai tikus, ibuk mencarinya agar bisa segera dikubur dan tidak menimbulkan bau lagi.

Saat sedang mencari sumber bau bangkai itu, ibuk menemukan ada bunga besar aneh yang tak biasa. Kebun ini adalah area kekuasaan Ibuk, ibuk yang menanam dan menata tanaman di sana. Jadi ibuk bisa memastikan kalau tanaman itu tidak ada di sana sebelumnya.

Tapi ibuk ingat bahwa di tempat  pernah menanam suweg. Suweg adalah tanaman yang dimbil umbinya untuk dimakan. Ini termasuk jenis tanaman yang populer di jaman Embah saya dulu. Suweg dikukus atau direbus sebagai pengganti nasi karena kata ibuk di masa itu jaman larang pangan.

Ibuk menduga mungkin bunga besar berbau bangkai itu adalah bunganya suweg. Dan ibuk segera memotretnya. Saat ibuk mengirim foto bunga itu ke saya, bunganya sudah tidak ada. Seingat saya ibuk bilang bahwa bunga besarnya itu tidak tahan lama, hanya sehari saja sepertinya mekarnya.

Ibuk menanyakan ke saya tentang identitas bunga itu. Anaknya pernah sekolah biologi jadi beliau pikir mungkin saya tau. Duh kalau bunga bangkai saya taunya cuma Rafflesia Arnoldi. Dan ini jelas bukan Rafflesia kalau dari bentuk bunganya. Cara paling gampang buat saya ya nanya sama Gugel dong. Eh taunya bener apa dugaan ibuk. Itu bunga adalah bunganya suweg.

Nah, sejak ngobrolin suweg itu saya dan ibuk suka saling kirim foto tanaman dari cerita kebun kami masing-masing.

Ibuk Mainan Sama Bawang

Cara membangun bonding Ibu dan Anak
Sempat-sempatnya ibuk bikin ini

Ibuk mengirimi saya foto bawang putih yang sudah tumbuh akar dan daunnya. Waah... saya suka sekali. Foto diambil dari dapur ibuk, bukan kebun. Ini ibuk ada aja idenya, kayak ibu muda mainan kitchen scratch yang ditaruh di window sill hingga tumbuh untuk dimasak lagi. Saya baru kepikiran mau nanem di window sill dapur, eh udah keduluan aja sama ibuk. Mana punya ibuk kelihatan keren gitu, bikin iri deh haha.

Bunga Ungu Bermekaran

Bonding Ibu dan Anak
Cantik kan si ungu ini

Saya mendapat kiriman foto bunga ungu yang sedang mekar dari ibuk. Semarak sekali, warna ungunya indah. Mana ibuk motretnya dengan latar belakang rumah tetangga baru yang kayak villa itu. Tambah kelihatan estetik deh.

Hubungan ibu dan anak
Rumah tetangga loh ya ituuu

Kami menyebutnya Bunga ungu karena tidak tau nama aslinya apa. Bunga ini tumbuh di depan rumah, di sisi pagar samping. Ibuk mendapatkannya dari bulek saya yang sudah meninggal. Memang kebanyakan tanaman ibuk berasal dari orang lain, bukan beli. Kalau di desa sudah biasa ya minta tanaman, barter, atau memberi tanaman yang sudah beranak-pinak. Kalau lihat tanaman ini saya ingat bulek saya itu.

Ibuk juga memberi saya tanaman bunga ungu ini untuk ditanam di Surabaya. Beberapa kali ibuk nanyain apa sudah berbunga. Sayangnya di sini pertumbuhan tanaman ini terhambat, sulit besar. Baru setelah bertahun-tahun dan setelah tiga kali pindah lokasi tanam, sekarang terlihat besar dan sehat. Tinggal menunggu berbunganya saja.

Makanya ketika ibuk mengirim foto si ungu, saya seneng banget. Kerinduan pada keindahannya terobati. Hati ini ikut berbunga-bunga jadinya.

Jambu Darsono Nan Ranum

Jambu merah
Teringat rasanya yang manis dan empuk

Aaah... ibuk bikin baper deh. Jambu Darsono yang merah merona menggoda banget pingin dilhep aja. Sayangnya cuma foto. Kalau ibuk kirim hasil panen menggoda gini, tandanya beliau pingin kita pulang. Ah hatiku gerimis, Buk. Ga selalu bisa wat wet pulang.

Panen Rambutan

Panen Rambutan
Apa nggak pingin pulang kalo dipamerin kayak gini?

Sinyal untuk segera pulang datang lagi melalui utusan foto rambutan. Di Surabaya pingin rambutan ya harus beli. Enak banget di desa tinggal sengrak-senggrek atau manjat dah bisa kenyang rambutan manis nglonthok. Aah ibuk makin bikin kangen saja.

Kembang Kencur

Kembang Kencur
Bunga kencur yang seperti anggrek

Giliran saya mameri ibuk tanaman dari kebun kecilku. Orang desa hidup di kota ya bikin kebun lah ala-ala urban farming gitu. Wes lah bagi saya yang penting hidup tu selain ada suami dan anak-anak, ada tanaman juga, meski sedikit nggak papa. Ini salah satu tanaman yang jadi bahan obrolan saya sama ibuk di wa.

Ternyata meski seumur hidupnya ibuk dekat dengan tanaman, ibuk belum pernah tau soal kembang kencur yang secantik Orchid. Saya lihat memang tanaman rimpang ibuk kebanyakan kunyit, Laos, dan jahe. Kencur ada tapi dikit, biasanya buat krawu sayur (bahasa di Surabaya urap sayur).

Sementara saya di sini menanam cukup banyak kencur. Kencur ini andalan bumbu seblak favorit mas Fa, anak saya. Saya juga nggak tau kalau kencur itu ada bunganya. Awalnya takjub nemuin bunga kecil seperti anggrek di tanah. Eh tak taunya bunga itu menempel di tanaman kencur.

Ada perasaan senang pastinya bisa menambah wawasan ibuk soal kembang Kencur ini. Ibuk bisa menganggap saya sebagai partner ngobrol yang asik untuk urusan tanaman.

Pisang Bung dari Ibuk Berbuah

Membangun hubungan orang tua dan anak
Panen pertama pisang Bung/kepok dari ibuk

Begitu si pisang turun dari pohon, tentu saja dengan jasa suami sebagai tukang tebang pohonnya, saya langsung ambil hape buat motretin. Foto panenan pertama spesial buat ibuk.

Saya bahkan sudah memotretnya sejak masih keluar ontong. Ingin menunjukkan ke ibuk bahwa tanaman pisang yang beliau beri berhasil berbuah.

Biar deh kelihatan norak ya, yang penting ibuk ikut senang. Dulu saya membawakan ibuk benih pisang Ulin dan sudah berbuah. Buahnya enak, ibuk suka membagikannya ke jamaah masjid depan rumah. Sekarang giliran saya membagikan pisang hasil benih dari ibuk untuk tetangga di sini.

Bonding Ibu dan Anak Bisa Diupayakan 

Kerandoman cerita saya dan ibuk tentang tanaman akan panjang kalau dituliskan semua di sini. Dari sepenggal cerita ini saya ingin berbagi tentang bonding ibu dan anak atau orang tua dan anak bisa dipupuk ya Teman Fillaah. Carilah hal menarik yang beririsan, bisa minat atau aktivitas berdasarkan pengalaman selama ini. Ini bisa juga diterapkan bersama anak-anak kita. Bangun kesukaan bersama, jadikan bahan obrolan, jalin kedekatan, InsyaAllah ikatan ibu dan anak akan makin kuat tercipta. Selamat mencoba!


2 comments

Ingin memberi tanggapan atau saran? Silahkan drop di comment box. Terima kasih!
  1. Tanamannya bagus-bagus mbak. Memanfaatkan lahan untuk tanaman toga dan tanaman buah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah Bu, belajar dari ibu saya semuanya 🙏

      Delete