Ganti Judul dan ALt sendiri

Sehat Tanpa Obat, Mungkinkah?

Hidup sehat tanpa obat

Sehat tanpa obat, mungkin nggak sih? Teman Fillaah ada yang punya pendapat atau pengalaman tentang sembuh dari sakit tanpa obat?

Saya ingin menceritakan pengalaman keluarga kami bisa sembuh dari sakit tanpa bantuan obat.

Kami bersyukur karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala memberikan jalan sehat yang terasa nikmat dalam hal mengatasi penyakit. Allah tunjukkan cara pengobatan yang mudah dan cocok bagi kami.

Masalah Kesehatan Kami

Saat anak pertama dan kedua masih kecil, saya sempat merasa diri ini sebagai perawat pasien. Masalahnya, kedua anak saya sering sakit secara bergantian. Dalam dua bulan biasanya ada kunjungan ke dokter karena anak sakit. Dan sebelum ke dokter, kami sudah memberinya obat yang dibeli dari apotek.

Saya mempunyai binder berisi plastik-plastik transparan. Di tiap plastik itu saya menyimpan kertas label beraneka macam obat. Saya mengambilnya dari box obat-obat sebelumnya. Kebanyakan obat anak-anak.

Untuk obat dari apotek saya lebih suka membeli sirup karena anak-anak masih mau meminumnya. Tapi apabila setelah beberapa hari sakitnya tidak sembuh, ya terpaksa ke dokter.

Masalah yang kami hadapi ketika berobat ke dokter, seringnya dokter memberikan obat racikan atau puyer. Tau sendiri kan rasanya puyer? Pahit. Anak-anak tidak suka puyer. Dan jika akhirnya mau buka mulut untuk meminumnya, seringnya anaknya nggak kuat menelannya. Obat dimuntahkan. Inilah yang membuat saya stress.

Ketika obat nggak bisa masuk, sakitnya anak tidak membaik. Akhirnya setelah obat habis karena banyak yang dimuntahkan dan sedikit yang masuk, dan anak masih sakit, kami kembali lagi ke dokter. Kadang hingga 3 kali kunjungan ke dokter, baru kondisi anak membaik.

Cara merawat anak sakit

Kami pernah mengalami hal buruk. Kedua anak kami sakit batuk pilek tak kunjung sembuh. Tibalah kunjungan ketiga ke dokter (dan itu sudah dirujuk ke RS). Karena sakitnya sudah lama, maka harus tes lab. Nangis ditusuk jarum pastilah. Dan ujung-ujungnya harus dirawat inap, dua anak dirawat bersama.

Saat pendaftaran di resepsionis RS, suster mengatakan kalau sekarang mendapatkan kamar rumah sakit itu lebih sulit daripada kamar hotel, jadi kami harus sabar menunggu sesuai antrian. Saat menunggu itulah, anak-anak balita kami dirawat sementara di kamar dewasa.

Pengalaman merawat anak bolak-balik ke RS karena awalnya sakit yang sepele batuk pilek itu benar-benar membuat capek fisik dan mental. Sebagai ibu muda yang belum banyak pengalaman,  rasanya ingin sekali bebas dari masalah-masalah itu. Bau obat, muntahan anak, aroma karbol rumah sakit, tegang saat mendengar penjelasan dokter, rewelnya anak saat sakit dan lemah, perasaan bersalah sebagai ibu, sungguh hari-hari yang berat bagi saya.

Sampai suatu waktu, saya sama sekali tidak pernah menyangka akan menemukan penawar dari segala beban berat merawat anak sakit. Kami menemukan solusi dari rasa pahitnya obat. Rizqi minallaah. Solusi sehat dari Allah benar-benar merupakan Rizki yang tak ternilai harganya.

Mengapa Kami Tidak Suka Obat? 

Sehat tanpa obat

Ada beberapa alasan mengapa kami kurang suka dengan obat:

1. Sejak kecil saya sudah terbiasa minum obat. Rasa tidak enak harus menelan beberapa pil besar setiap selesai makan, masih teringat hingga kini. Pil yang meleset arah telan hingga berakhir terkecap rasa pahit, sensasinya masih terasa.

2. Anak-anak saya tidak mampu menelan puyer dengan baik dan banyak yang dimuntahkannya. Jadi kami tidak tahu apakah obat yang diminum sangat sedikit yang masuk itu memberikan efek pada pengobatan.

3. Kami tidak suka ketika badan sakit harus antri lama di dokter dan apotek. Inginnya kalau sakit ya tidur sepuasnya di rumah.

4. Rasanya tidak enak harus menghabiskan antibiotik sesuai dosis yang minimal 3 hari berturut-turut. Dan kalau masih sakit, saat kontrol diberi antibiotik yang jenisnya lebih tinggi (cefadroxil dan cefixime)

Itulah alasan kami mengapa kurang suka dengan obat. Jika ada alternatif sembuh dari sakit dengan cara lain, kami ingin mencobanya.

Cara Kami Sembuh dari Sakit Tanpa Obat

Awalnya kami berkenalan dengan propolis tetes. Selama beberapa waktu kami mencobanya untuk mengobati sakit seperti batuk, pilek, radang tenggorokan. Kami menganggapnya sebagai antibiotik. Ternyata kami cocok dengan propolis. Tanpa ketergantungan pemakaian setiap hari. Kami hanya mengkonsumsinya ketika sakit. Dan setelah 2-3 hari pemakaian sembuh, kami menghentikannya. Alhamdulillah jalan sehat rasanya lebih cepat.

Yang mencoba propolis untuk menyembuhkan sakit saat itu hanya saya dan suami. Belum berani memberinya ke anak-anak. Propolis menurut kami sangat manjur untuk mengobati sakit karena infeksi. Kelemahannya adalah rasanya yang sangat pahit. Penggunaannya hanya 2-3 tetes diletakkan di bawah lidah kemudian ditelan sambil minum air putih.

Ketika mendapatkan bahwa ternyata kami bisa sembuh dari penyakit tanpa obat, kami mulai membuka pikiran kami bahwa mungkin di luar sana ada cara pengobatan tanpa obat lainnya.

Saat itu suami juga tengah mencoba madu. Suami saya sering mengeluh pusing. Pernah suatu hari kepalanya pusing, dada kirinya sakit dan hampir pingsan saat naik motor. Alhamdulillah ada orang yang menolong.

Sakit di dada biasanya identik dengan penyakit jantung. Dua kali suami periksa ke poli jantung dan dicek dengan EKG, hasilnya baik. Dokter berkata sakit di dadanya hanya efek  kecapekan.

Karena masih khawatir dengan kondisi kesehatannya, suami mencoba mencari suplemen kesehatan. Dan madu menjadi pilihannya. Biidznillah setelah minum madu terutama saat kecapekan atau perjalanan keluar kota, sakit kepala dan dadanya tidak kambuh lagi.

Ketika sakitnya berkaitan dengan infeksi yang menyebabkan badan demam, kami mencampur madu dan propolis. Dan it’s work. Kami  mencobanya ke anak-anak juga. Dan babak baru batpil sembuh tanpa obat dimulai. Bisa sembuh tanpa obat pait, tanpa muntahin obat, tanpa stress, sembuh lebih cepat, dan bahkan anak-anak mandiri dengan kesadarannya mau diobati. Anak-anak senang punya yang namanya obat manis alias madu.

Sehat dengan madu

Sejak saat itu kami bereksperimen dengan tubuh kami, bagaimana reaksi saat mengkonsumsi beraneka herbal. Dunia baru terapi sehat sedikit demi sedikit terbuka. Kami juga mencoba minyak habbatusaauda (habbasyi oil) dan minyak zaitun (olive oil).

Mencoba sendiri kemudian mencobakannya ke anak itu pengalaman yang tidak sebentar. Karena kami tidak mengkonsumsinya setiap hari. Kami hanya menggunakannya saat menjelang sakit saja.

Selain madu, propolis, habbats oil, olive oil, kami juga suka mengkonsumsi aneka minuman rimpang dan teh dari tumbuhan. Hidup sehat dengan memilih makan dan minum dari bahan alami saat ini menjadi bagian perjalanan sehat kami. Untuk menjadi sehat seutuhnya memang tidak mudah. Dari hal kecil ini InsyaAllah kelak akan makin meringankan untuk menerapkan hidup sehat secara menyeluruh (holistik).

Kelebihan Herbal

Kami menemukan kelebihan menggunakan herbal daripada obat. Jika minum obat tentu setelah sakit dan tegak diagnosanya oleh dokter. Saat badan mulai kecapekan, lemes, dan dahi anget, tenggorokan mulai sengkring-sengkring, belum berani kami ke dokter untuk periksa. Nunggu flu datang baru berani berobat.

Dengan herbal, saat tanda-tanda sakit mulai terasa, langsung saja minum madu dan habbasyi oil, makan yang bergizi, dan istirahat. InsyaAllah gejala penyakit cepat pergi dan sakit tak jadi menghampiri. Dengan cara ini frekuensi sakit batuk, pilek, radang, berkurang drastis di keluarga kami. Penyakit-penyakit itu termasuk jenis sakit ringan tapi rasanya benar-benar tidak enak di badan dan sangat mengganggu produktivitas.

Mindset kami tentang pengobatan herbal makin terbuka. Saat ini kami sudah biasa menggunakan madu, habbasyi oil, dan olive oil untuk mengobati luka basah. Pengalaman paling amazing dengan pengobatan luka ini adalah saat anak laki-laki saya terluka di bagian atas lutut. Kulitnya mengelupas lebar hingga terlihat bagian putihnya (dagingnya). Luka ini akibat anak saya nggandol di motor tetangga karena bercanda ngejar temannya dan terseret hingga beberapa meter dan jatuh. Yang merawat lukanya suami saya. Telaten sekali dia,  diganti perbannya setiap hari. Hasilnya MaasyaAllah kulitnya menutup sempurna dan halus tanpa bekas. Padahal anak saya ini berbakat punya keloid.

Jenis sakit lain yang saya berpengalaman sembuh dengan madu dan habbats adalah diare parah. Ternyata bisa sembuh juga.

Pengalaman selama bertahun-tahun bersama herbal itu juga yang menguatkan kami untuk bertahan di rumah saat saya dan anak-anak dilanda sakit aneh ketika wabah covid varian delta.

Saat itu tiba-tiba saya demam tinggi dan kepala pusing sekali hingga tidak kuat bangun. Kemudian bayi saya ikut demam, dan dua anak lainnya juga menyusul. Alhamdulillah suami sehat.

Kami tidak berani ke RS karena kondisi RS saat itu sedang full hingga pasien tumpah ruah di luar kamar perawatan. Kami melihatnya dari layar televisi. Selain itu juga karena saya tidak kuat bangun, apalagi harus menggendong bayi dan mengurus anak lainnya.

Pertolongan Allah saat itu adalah suami yang sehat dan adanya persediaan madu dan habbats oil yang masih banyak. Saya dirawat suami dengan disuapi madu plus habbasyi oil. Suami juga yang merawat anak lainnya, kecuali adek baby yang masih total minum ASI. Salah satu anak saya cukup parah hingga seperti hilang kesadaran dan kemampuan koordinasi.

Alhamdulillah di tengah rasa takut kami pergi ke fasilitas kesehatan karena kondisi yang memang sedang darurat, dengan pertolongan Allah melalui herbal, perlahan Allah sembuhkan kami semua.

Masih Perlukah Dokter?

Kalau sudah bisa menyembuhkan sakit dengan wasilah aneka herbal, berarti nggak butuh dokter dong?

Ujian sakit itu beraneka macamnya ya, Teman Fillaah. Alhamdulillah Allah beri kami sekeluarga kemudahan sembuh dari penyakit batuk, flu, radang, luka, benjol, ruam, diare, maag, pegel linu, asma, dengan batuan herbal. Itu semua sangat kami syukuri. Penyakit-penyakit yang sering kami alami jadi mendapatkan solusi sembuh dengan cara yang lebih mudah dari sebelum kami mengenal herbal.

Tapi ada penyakit-penyakit lain di luar itu yang kami tidak berani menanganinya sendiri, jadi kami tetap menemui dokter untuk meminta nasihat.

Anak kami pernah sakit batuk pilek dan seperti biasa kami beri madu dan habbats. Tapi setelah beberapa hari tidak sembuh. Hal yang tidak biasa adalah biasanya anak itu meski sakit nggak bisa diam alias tingkahnya banyak. Tapi saat itu dia agak lain, tumben banget anteng. Dia juga mengeluh perutnya sakit padahal tidak diare.

Karena khawatir, kami membawanya ke dokter keluarga. Menurut pemeriksaan dokter, ternyata anak kami terkena typhus. Dokter melihatnya dari lidah dan pemeriksaan fisik lainnya. Alhamdulillah tidak perlu cek lab. Dan dengan satu kali resep dokter alhamdulilah juga sudah sembuh, tidak perlu rawat inap. Padahal setau saya namanya typhus ya harus cek lab dan opname. 

Kami juga ke dokter bila berkaitan dengan sakit gigi, mata, kandungan, tumbuh kembang anak, yang berkaitan dengan medical checkup, dan jenis sakit lain yang kami tidak punya pengetahuan dan pengalaman tentangnya.

Saya dan suami termasuk orang yang suka berbincang dengan dokter. Apalagi bila dokternya pro herbal dan pengobatan holistik. Sedikit  flashback, saat dulu masih selalu mengandalkan dokter saat sakit apa pun, dokter anak kami yang mengingatkan kami untuk tidak langsung ke dokter ketika anak sakit. Dokter tersebut di IGD dengan telaten mengajarkan saya cara mengompres yang benar saat anak panas. Saat saya berobat gigi ke dokter, dokternya sangat suka bercerita. Beliau bercerita, ketika anaknya sakit, beliau tidak langsung memberinya obat, tetapi memijatnya di tukang pijat yang dipercayainya. Membawa anaknya ke dokter anak adalah opsi terakhir.

Beberapa dokter yang memberi saya saran tentang pengobatan selain medis tersebut yang menjadikan saya mulai terbuka dengan alternatif pengobatan di luar obat kimia.

Temukan Jalan Sehatmu

Nah Teman Fillaah, apakah kamu juga punya pengalaman menggunakan pengobatan selain dengan obat pait? Jika punya, boleh dong berbagi pengalaman juga.

Obat herbal keluarga

Apabila kamu ingin memulai perjalanan sehat tanpa obat, kamu bisa melakukannya secara bertahap seperti kami. Yang penting kenali tubuhmu dan responnya terhadap jenis herbal yang kamu coba. Jika tidak cocok, ya jangan dilanjutkan. Atau kamu bisa berkonsultasi dengan dokter yang mengerti tentang herbal. Saya doakan semoga Allah memberimu jalan untuk hidup lebih sehat dengan cara yang nyaman dan menyenangkan.

4 comments

Ingin memberi tanggapan atau saran? Silahkan drop di comment box. Terima kasih!
  1. Beda dengan anak2 kami, yang sangat suka kalau sakit karena akan diberi obat. Nggk tau kenapa mereka suka sekali obat. Sampai pernah meminum paracetamol tanpa sendok langsung dari botolnya. Tapi dari sana kami menghindari penggunaan obat. Beralih herbal. Pengalaman kami, tubuh yang terbiasa diberikan yang herbal akan lebih mudah reaksi ke tubuhnya. Misal saat batuk, anak2 cukup 2 kali diberikan perasaan jeruk nipis dan air hangat langsung mereda. Alhamdulillah, plus makanan yang perlu di jaga. Ajaibnua tubuh itu seperti bisa membaca, kl sudha biasa dikasih herbal itu dia langsung bereaksi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget mbak. Pake herbal imunitas jadi lebih kuat dan ngasihnya ga perlu nunggu waktu dah sakit

      Delete
  2. Mengkonsumsi madu dan propolis memang sangat baik untuk menjaga daya tahan tubuh.kami juga mengkonsumsinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah Bu sudah ikut merasakan manfaatnya juga. Semoga Bu Yayuk dan kuarga selalu sehat

      Delete