Ganti Judul dan ALt sendiri

Menulis Sebagai Ibadah: Menapak Jejak Manfaat Melalui Jemari yang Mindful


Blogging sebagai ibadah

Beberapa bulan berlalu tanpa menulis satu blogpost pun. Aku sudah lupa dengan the big why kenapa memilih menjadi blogger. Kemudian sebuah brief challenge blogging seolah menepukku keras. Tema "Menulis Sebagai Ibadah" yang menjadi salah satu tema challenge tak bisa kuabaikan.

Setiap ada challenge sebenarnya aku selalu tergerak. Apalagi kalau temanya dekat dengan realitasku. Ikut challenge bisa menjadi momentum untuk bangun dari hibernasi panjangku.

Aku tak keberatan dijuluki sebagai blogger challenge. Ya, saat ini memang di titik itu aku berada. Justru itulah fungsinya mengikuti komunitas blogger. Salah satunya agar bisa merawat dan membangkitkan motivasi ngeblog yang masih naik turun.

Aku bersyukur bergabung di Blogspedia. Komunitas blogger yang mengakomodasi blogger newbie atau blogger kawakan yang merasa masih perlu banyak bimbingan. Di sini aku bisa merawat mimpiku sebagai blogger beneran.

Ramadhan ini Blogspedia mengadakan challenge menulis blogpost. Temanya kalau ditelisik keren banget menurutku. Siapa sih yang bikin? Sepertinya tau banget cara mengusik blogger-blogger yang lagi hiatus.

Dari 7 tema pilihan, semuanya tentang "reset pondasi ngeblog". Tema yang bikin jiwa-jiwa blogger on off sepertiku resah.

Aku terpanggil. 3 topik langsung menjadi pilihanku. Membaca sekilas saja sudah menggerakkan alur narasi di pikiran. Menuangkannya ini yang butuh effort lebih.

Mulai aja dulu, ga selesai on time urusan belakangan. Yang terpenting saat ini mengambil momentum untuk bergerak. Atau lewatkan dan berdiam lagi dalam resah hingga otak beneran minta pensiun.

Refleksi Diri Seorang Blogger

Sejujurnya aku sedang di tahap lupa kalau punya blog yang harusnya diurus. Alibi klasik, ga ada waktu buat nulis. Atau saat on fire nulis, mata lebih menang meremnya.

Pikiran kadang nyeletuk: 
udahan aja ngeblogya, nulismu cuma sebatas niat. Masak mau beneran nulis jelang perpanjangan domain aja. Palingan sebulan dua bulan itu semangat BW, abis itu padam”.
Aku tidak membantah. Emang iya. Kuakui aku blogger yang semangat berkarya dengan aba-aba. Hatiku masih berharap, pasti ada kesempatan untukku memperbaiki ini.

Kembali kuingat apa yang sudah kulalui bersama blogku, Aishawa. Menuangkan isi pikiran, mungkin ini yang terasa paling melegakan dan memberi kontribusi pada my soul.

Berada di circle positif para penulis inspiratif, ini anugerah besar buatku. Senangnya diterima di komunitas seperti ini. Aku ga nyangka bisa belajar langsung bersama mereka, meski aku sampai saat ini belum bisa menyebut diriku sebagai penulis.

Memperoleh kesempatan mendapatkan cuan dari blog. Ini kuanggap sebagai untung-untungan. Dengan keterbatasan konsistensiku, aku ga bisa fight untuk mendapatkan penghasilan beneran dari blog. Iya, seneng bisa ada notif tf dari sebuah kerjasama nulis. Namun saat ini, dedikasiku sebagai tukang kue belum bisa kukesampingkan untuk bisa berjuang lebih sebagai blogger pro.

Jadi, ya aku ini blogger nanggung. Rajin enggak, udahan nggak mau. Nyebut diri sebagai blogger, malu. Ada yng samaan?

Keyakinan Untuk Tetap Melangkah (the big why)

Aku membayangkan ke depan. Beberapa periode menerima bill Hostinger dan masih di situasi tidak bisa memegang kendali atas blogku dan internal diriku, aku akan dengan yakin ucapkan wassalam.
Aku akan menganggap cukup sekian takdir ngeblogku. Aku akan berterima kasih dengan sekian banyak pengalaman denganmu dan orang-orang yang kau bawa bersamamu.

Hari ini, aku belum bisa mengatakan say good bye itu. Aku memilih menata langkah lagi. Reset niat dan mindset yang kuperlukan.

Di awal Blogspedia Coaching, aku menuliskan 15 Big Why I Choose to Be a Blogger. Itu bisa menjadi motivasiku di awal ngeblog. Hal-hal baik yang jika kuingat benar-benar menjadi semangatku.

3 tahun berjalan, rasanya aku perlu satu saja the biggest reason why buat aku terus tetap ngeblog. Semua benefit ngeblog yang pernah menjadi api buatku dan ternyata kini terasa dingin aja, harus kuganti.

Atau aku cari sari patinya yang akan lebih kuat menjadi generator terbaikku. Satu hal saja yang mampu membuatku bangun.

Ini sulit. Aku mencarinya dalam lubuk diriku, yang jauh masuk ke inti diri.

Jadi, apa satu alasan kuat yang bisa membuatku melangkah di dunia blogging?
"Menulis Sebagai Ibadah", sebuah susunan kata singkat yang bermakna dan hadir sebagai reminder bagiku.
Aku bertanya, apakah di rasaku, ini serasa seperti sebuah alasan utama atau sekedar motif manis aja? Harusnya, ketika menulis memiliki makna sebagai ibadah, bukankah ada keteguhan dalam memperjuangkannya?

Seperti halnya ibadah lainnya, shalat dan puasa misalnya. Seteguh itu kita lawan hal yang menghalanginya. Mengkondisikan agar ibadah itu terlaksana dengan sebaiknya.
Mengutip nasehat Ustadz Khalid Basalamah, namanya ibadah itu harus dipaksakan.
Tapi menulis? Bisakah aku mensejajarkan niatnya seperti niat ketika shalat dan puasa? Ibadah yang sudah tertanam dalam DNA keimananku. Bisakah aku memaksa diri menulis dengan niat ibadah?

Apakah menulis bagiku bisa sebernilai itu? Apakah aku beneran bisa nulis yang bermanfaat? Apakah Allah akan menerima niatku? Nulis apa yang bisa membuat Allah ridho padaku?

Pertanyaan-pertanyaan yang mempertanyakan niat selalu butuh jawaban yang kuat dan presisi. Aku harus bertanya ke mana?

Namun kemudian, otakku sendiri menyajikan jawabannya. Jawaban itu berasal dari memori potongan-potongan nasehat dalam poster dan video dakwah yang sering kukonsumsi.

Ini tentang pentingnya Ilmu.

Warisan utama seorang Nabi bukanlah harta, tapi Ilmu. Ilmu apa? Bagaimana ilmu Nabi bisa tersebar hingga melintasi zaman? Jawabannya adalah karena penjagaan Allah atas IlmuNya.

Dan bukti nyata penjagaan Allah terhadap firmanNya yang telah tersampaikan melalui Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasaalam, sang nabiyullaah adalah Al Qur'an yang menjadi pedoman hidup umat manusia saat ini.

Al Qur'an telah sempurna terjaga melalui ingatan kuat manusia-manusia pilihan Allah. Begitu pun hadits Nabi. Jejak manuskrip suci itu hari ini sampai ke kita melalui apa? Secara pribadi, aku lebih banyak mendapatkannya melalui tulisan, bukan pendengaran.

Bisa jadi mendengarnya lebih dulu melalui ceramah audio. Namun kadang kurang paham. Menelaah dan memahaminya seringkali melalui tulisan. Karena apa? Mendengar bahasa Arab yang asing tidak bisa langsung tersimpan sebagai memori pemahaman di otak. Sedangkan tulisan bisa lebih mudah mencernanya.

Di sini, jelas bahwa tulisan sangat bermanfaat membantu proses belajar. 
Dan jika aku meniatkan menuliskan untuk membantu orang lain lebih paham atau setidaknya lebih terhubung dengan pesan nubuwat (Al Qur'an dan Sunnah), insya Allah ini bernilai sebagai ibadah
Sesungguhnya di akhir zaman ini, perlu semakin banyak anak Adam yang menyebarkan pesan kenabian atau Wahyu Allah melalui berbagai media. Dan media blog salah satunya. Semoga ini menjadi salah satu jalanku meraih surgaku.

Baiklah, sudah kutemukan my new big why. The only one, the biggest why aku tetap nulis adalah untuk ibadah kepada Allah.

Aku tahu ini merupakan sesuatu yang harus terus-menerus kutanamkan agar terpatri dalam diri. Karena kalau tidak, nasibnya akan sama saja dengan my big why  sebelumnya.

Dan mempertahankan niat, menguatkannya, menjaganya dari hal-hal yang mengotorinya adalah perjuangan tersendiri nanti. Kita lihat, seberapa teguh aku di jalur ini!

Mengapa Ibadah Jalur Nulis?

Iya bener, nulis itu bisa sebagai jalan ibadah. Cukup dengan niat tulus mau nulis karenaMu Ya Allah. Insya Allah sudah jadi pembuka jalan pahala. Tapi kenapa milih nulis sebagai jalan ibadah pilihanku? Kan banyak ibadah lainnya yang pahalanya juga besar?

Ini mungkin kebolak-balik ya jawabannya. Di POV aku, aku pingin nulis. Otakku berisik, sering merapalkan paragraf-paragraf tulisan. Cuma dengan menuangkannya di kertas atau blog, pikiranku kembali tenang.

Jadi mikir, apa para penulis itu mungkin lebih parah ya, banyak suara-suara di kepalanya yang pingin keluar?

Meski rasanya inspirasi dan ide selalu ngalir, tapi aku suka on off nulisnya. Kadang semangat, kadang enggak. Menjadikan menulis dengan niat ibadah memberi energi tersendiri bagiku untuk lebih mau bergerak.

Meski aku tau, namanya ibadah apa pun, sudah ada setan yang siap sedia menghadang. Bisa jadi, niat ibadahnya makin kuat, makin besar juga ujiannya.

Sementara itu, di sisi lain, mengapa aku ingin mempertahankan ibadah jalur nulis ini, mengapa nggak milih ibadah lain? Jawaban singkatnya, ini adalah yng bisa kuusahakan. Ibadah lain, selama aku bisa mengusahakannya juga, tidak pandang besar kecilnya pahala, aku akan ambil kesempatan itu.

Ibadah itu ada yang manfaatnya lebih ke diri sendiri dan ada yang untuk orang lain. Menulis bagi diri membantu melapangkan pikiran, memperkaya jiwa, menumbuhkan pribadi menjadi lebih baik, lebih positif. Itu sudah aku rasakan.

Menulis bermanfaat bagi orang lain yaitu dengan membantu memberikan informasi yang mereka perlukan. Di dunia blog, bisa dibilang informasi yang terdeliver ke pembaca adalah apa yang mereka cari sendiri melalui mesin pencari.

Jadi, konten blog seperti menghubungkan langsung dengan pikiran manusia. Kita tidak menawarkan, tapi menyediakan di etalase google yang siap dijemput manakala mereka membutuhkan. Cukup meminta jemari mengetikkan kata kunci, jika Allah menghendaki, konten yang kita olah dengan hati akan tersaji dan siap dinikmati.

Pikiran, hati, dan jemariku bekerja sama menghasilkan tulisan. Kubiarkan dia ada di rumah mayaku, blog Aishawa.com. Dan biarkan Allah yang membawanya kepada siapa yang dikehendakiNya.

Blogger angin-anginan yang mulai mau bangkit ini, saat ini masih belum mau pusing dengan urusan SEO. Biarlah dulu tulisanku sampai tanpa terlalu banyak aku ikut campur tangan menyebarkannya.

Kalo ga sampai-sampai? Mungkin ntar baru mikirin ngulik SEO lagi. Manusia langsung rajin sekali jalan itu langka, teman. Dan kupastikan, aku bukan salah satunya.

Cukup satu dulu yang bisa kuupayakan saat ini, agar jemariku mau menari diatas tuts keyboard dengan lebih rajin. Agar pikiranku mau kualirkan di atas dasboard blogpost dengan intensi ibadah yang lebih kuat.

Kuharap ini akan menjadi kontribusiku untuk dunia yang kutinggali ini. Dunia yang banyak membuatku khawatir. Sedikit pengalaman, ilmu, dan perspektif dariku semoga bisa memberi warna dan manfaat untuk literasi digital ke depan.

Tulisan yang Membawa Pesan

Menulis apa yang akan bernilai ibadah dan bermanfaat? Menulis yang membuat orang ingat pada Allah. Itu saja yang akan aku lakukan.

Iri aku pada para pendahuluku. Embahku bisa ngajakin orang shalat 5 waktu, melebihi umurnya pula. Karena beliau membangun langgar (musholla) yang dipakai shalat masyarakat sampai sekarang. Jariyah yang mengalir hingga beda alam.

Bapakku memanggil orang shalat, menjadi Imam yang bacaan ayat-ayat pendeknya mungkin jadi hafalan pertama anak-anak kecil di sekitarku. Aliran pahala yang abadi.

Ibuku, memuliakan tamu Allah di langgar kecil yang sekarang disebut masjid itu. Sedekah dan kontribusinya untuk membuat nyaman dan senang para jamaah tak diragukan lagi dari waktu ke waktu.

Sedangkan aku bisa apa? Ngajakin orang lain shalat dan ngaji? Duh, berat itu. Mengajak orang menjauhi dosa? Aku sendiri banyak dosa dan tidak berani ngajak-ngajak.

Komitmenku hanya sebatas ngajak si kecil dan keluargaku shalat.

Ngajak orang lain dalam kebaikan itu rasanya tidak mudah. Apalagi di hidup kita hari ini, yang kadang orang sudah yakin dengan “apa mauku”. Kalau nggak mau, atau belum mau, ya bakal sulit untuk diajak.
Menulis mungkin bisa menjadi “shortcut” mengajak kebaikan kepada orang lain. Tulisan di blog, kadang hadir terbaca seseorang bukan sebagai guru yang memintarkan. Tapi bisa sebagai obat atau sekedar teman curhat bagi jiwa yang sedang mencari.
Tulisan tidak menghakimi, hanya kata yang memandu refleksi. Penulis tidak menuntut apresiasi. Kenaikan PV aja udah bikin seneng hati hehe. Pertanda baik kan, ada manfaat yang bisa diambil.

Satu tulisanku yang kutulis dengan mengalir, tentang Rekomendasi Murottal Qur'an Terbaik, pernah masuk tulisan paling dicari di blog Aishawa. Ini artinya ada orang butuh informasi tersebut dan alhamdulilah mampir ke rumahku.

Jika aku bertahan di dunia blogging ini, aku berharap bisa lebih optimis dalam menulis yang mengajak dalam kebaikan.

Aku belum mandiri, teman. Segala bentuk dorongan untuk semangat nulis, challenge nulis, dan lainnya sangat membantuku untuk manas-manasin mesinku agar bergerak lagi.

Bersandar pada Sang Pemilik Hati yang Maha Mengetahui

Hari ini niat begini. Hari esok siapa yang tahu? Akhirnya aku kembalikan dan sandarkan niatku pada Sang Pemilik Hati Yang Maha Mengetahui.

Sebagaimana niat ini ada di hatiku karena izinMu, kuserahkan juga langkahku pada KuasaMu. Tolonglah, agar takdirku bukan sebatas menulis niat saja, tapi kuat merealisasikannya.

Pintaku, mudahkan jalanku meniti niatku, perbaiki selalu hatiku, tegur aku dengan lembut dan hikmah jika aku salah, bimbing selalu hambaMu ini, Yaa Rabbku.

Tak berani aku berjanji manis terus nulis. Merajut kembali niat itu sudah sesuatu yang rumit. Pilihan prioritas pasti akan selalu jadi pertimbangan di depan nanti.

Btw, alhamdulillah ya tulisan kali ini sudah di paragraf terakhir. Lega ku, bisa akhiri kalimat pembuka yang setengah niat tadi. Sepertinya tagline #mulaiajadulu cocok buatku. Karena moment flow itu harus dimulai, bukan dinanti.

Bagaimana denganmu teman? Adakah di antara kalian yang mengalami sepertiku, absen lama dari dunia blog? Apa yang akhirnya membuatmu bangkit? Aku senang sekali jika teman-teman mau berbagi denganku. Boleh dong cerita di kolom komentar. Terima kasih

#TheCupuersIsBack
#RamadanSoulJourney
#BloggingAsIbadah  

Post a Comment

Ingin memberi tanggapan atau saran? Silahkan drop di comment box. Terima kasih!
Arsip