Ganti Judul dan ALt sendiri

Faceless Content Creator, Personal Boundaries di Dunia Digital


Faceless content creator

Halo, Teman Fillaah! Sudah tau kan, dunia content creator saat ini tengah naik daun. Dari anak sekolah, ibu rumah tangga, karyawan, hingga pekerja profesional pun banyak yang mulai terjun di dunia content creator ini.

Coba deh mulai sekarang amati kalau sedang scroll Instagram, makin rame aja kan dengan akun-akun yang sengaja membranding diri sebagai kreator digital. Dan akun-akun tersebut selain rajin posting info, ide, reminder, atau hiburan, biasanya juga posting produk untuk diiklankan. Yak, endorsement, bisa juga affiliate, atau menjual bisnisnya sendiri.

Bisnis, endorse dan kerja sama dengan brand atau jadi affiliator itulah yang umum menjadi ladang cuan para content creator. Dan ini menarik hati banyak orang. Makin banyak yang ingin menjalani pekerjaan yang terlihat mudah dan enjoy dijalani seperti itu.

Bagi orang yang mempunyai kepercayaan diri tinggi, berani tampil di depan kamera, good looking, punya banyak ide, punya fasilitas yang mendukung, kalau niat menjadi content creator akan lebih mudah.

Namun banyak juga orang yang maju mundur untuk terjun di dunia content creator. Salah satu alasan seseorang mengalami kesulitan dan tidak segera mewujudkan keinginannya sebagai content creator adalah karena tidak siap tampil.

Tampil di sini bisa berarti tidak mau menampakkan diri aslinya di jagat social media, atau tidak mau kehidupan dunia nyatanya terekspose di internet. Alasannya bisa karena tidak percaya diri disebabkan penampilan atau kurangnya skill public speaking, bisa karena introvert, karena mengikuti aturan agama, dan karena privasi. Mungkin ada pula yang memiliki alasan lain.

Ternyata hal semacam ini wajar loh, Teman Fillaah. Setiap orang mempunyai batasannya sendiri dalam menjalani kehidupan. Kehidupan sosial di social media salah satunya. Batasan tersebut biasa juga dikenal dengan istilah Personal Boundaries. Kamu pernah dengar, kan? Kali ini saya akan membahasnya.

Apa Arti Personal Boundaries

Mengutip Hellosehat.com, setiap orang perlu membangun batasan pribadinya. Batasan pribadi ini menjaganya agar tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Dalam dunia psikologi, batasan ini disebut dengan personal boundaries.

Personal boundaries adalah batasan diri sendiri terhadap orang-orang atau lingkungan di sekitar. Tujuan memiliki batasan ini adalah agar bisa hidup dengan nyaman.

Pengertian boundaries

Memiliki self boundaries memungkinkan seseorang memiliki ruang untuk diri sendiri sehingga dapat menyampaikan kebutuhan dan keinginan sendiri tanpa banyak terpengaruh dari luar. Ini merupakan bentuk self love yang berarti mencintai diri sendiri. Dan tentu saja ini berpengaruh terhadap mental health.

Personal Boundaries penting untuk memberikan consent atau persetujuan. Sebaiknya setiap orang memahami boundaries orang-orang di sekitarnya. Dan akan lebih baik jika menyampaikan batasannya masing-masing untuk saling menciptakan pengertian, sehingga batasan tersebut lebih aman dari pelanggaran.

Saat mengkomunikasikan personal boundaries, seseorang mungkin merasa tidak nyaman. Terutama jika orang tersebut merupakan orang yang tidak enakan alias people pleaser.

Sebaiknya perlu juga untuk mendengarkan masukan dari orang lain supaya batasan yang ditetapkan tidak terkesan egois. Tak ada salahnya saling memberikan masukan.

Boundaries setiap orang mungkin saja berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan perkembangan masing-masing individu.

Menghargai personal boundaries dan mengkomunikasikannya akan memberikan manfaat yang signifikan bagi diri sendiri dan orang lain.

Yang pasti diri sendiri akan merasa lebih nyaman, terhindar dari lelah fisik dan mental karena memaksakan diri menyesuaikan diri dengan sekitar, mempunyai ruang untuk berkembang, jadi lebih menghargai batasan orang lain juga, mempererat hubungan, dan menghindari kebencian karena salah paham.

Jenis-jenis Personal boundaries

Fisik

Batasan fisik contohnya tidak mau berpelukan atau berjabat tangan dengan lawan jenis ketika bertemu

Seksual

Contohnya adalah mendapatkan persetujuan setiap hendak berhubungan dengan pasangan dan hal lain yang lebih privat.

Emosional

Menolak ajakan bertemu yang memang tidak diinginkan dan menghindari hal-hal yang memicu kesedihan atau kemarahan.

Material

Menolak permintaan meminjam uang atau barang yang dan memberikan batas pengembalian jika mengizinkannya.

Waktu

Contohnya meminta orang lain supaya tidak menelepon pada jam kerja, hanya menerima chat WhatsApp dan tidak menerima telepon, membatasi waktu kunjungan saat bertamu.

Intelektual

Contohnya memberi penolakan atas ide orang lain, tentunya disertai dengan alasan yang masuk akal.

Personal Boundaries Sebagai Content Creator

Di mana pun kita, sebaiknya memperhatikan batasan pribadi. Ini berguna agar kita bisa menempatkan diri dengan baik, aman, dan nyaman. Di pekerjakan apa pun perhatikan batasan pribadi ini. Termasuk juga saat berada di ranah digital.

Di dunia content creator, salah satu personal boundaries yang banyak ditetapkan orang adalah tidak mau tampil (faceless). Jadi maunya ngonten, aktif di social media, tapi profil secara fisik tidak ingin diketahui orang lain.

Emang bisa kayak gitu? Hal ini sebenarnya sudah sangat umum ya. Meski sebenarnya ada juga orang yang tidak suka dengan model akun yang nggak jelas mbak atau Bu, mas atau Pak ini. Btw, saya juga pake akun tipe faceless ini. Jelas kan who am i? ^^

Orang bisa mengenali orang lain di dunia online tidak hanya dari foto video saja. Orang bisa mengenali dari caranya berkomunikasi dan preferensinya dari apa yang dipostingnya.

Akun-akun yang tidak mencantumkan profil diri secara jelas ini ternyata banyak loh. Ada yang memang akun bener dan ada yang akun fake.

Di sini saya mau ngomongin yang akun bener aja ya. Jadi memang dia punya batasan pribadi di ranah publik digital. Nggak bisa, nggak akan pernah bisa meski diiming-imingi apa pun, atau masih malu-malu, nggak pede nunjukin foto dirinya.

Akun faceless ada yang sengaja bikin akun pribadi saja buat menyimak jagad socmed, ada yang memang buat ngonten.

Faceless digital

Ternyata ketika saya cek saved content di folder Instagram saya, banyak content creator yang model faceless ini. Ada dari golongan akun ibu-ibu masak, akun ide bermain, akun, motivasi, akun kesehatan, akun dakwah, dan paling banyak tentunya akun jualan.

Jadi nih ternyata di tengah banyak orang berlatih public speaking, voice over, edit video, level up skincare, padu padan outfit, latihan pose dan ambil angel, dan apa pun buat pantes tampil buat ngonten, ada begitu banyak content creator yang nggak musingin mau tampil. Ya karena strateginya berbeda.

Soal tampil nggak tampil buat ngonten ini adalah dua sisi di dunia digital. Keduanya sebenarnya bukan sekedar pilihan, tapi merupakan strategi. Iya ini strategi loh.
Faceless adalah strategi dan jalan ninja buat yang mau ngonten tanpa terbebani rasa takut dan ketidaknyamanan.
Buat yang tampil tentunya meningkatkan trust. Buat yang ga tampil yang pasti lebih terjaga personal boundariesnya dan less effort, lebih efisien juga. Jadi masing-masing memiliki kelebihan.

Trus buat yang ga tampil emang bisa berhasil? Saya kasih contoh 2 akun saja ya yang faceless tapi centang biru. Ada @dagelan, semua pasti tau, jutaan followersnya. Centang biru ibu-ibu muslimah favorit saya contohnya ya akun Mak Frida @fridajoincoffee.

Akun-akun itu bisa jadi inspirasi dan contekan bagi ibu-ibu content creator atau siapa saja yang memiliki personal boundaries tak ingin tampil.

Kamu Punya Personal Boundaries Juga?

Halo, apa kabar dengan kamu? Gimana kamu mengelola akun social mediamu? Kamu tipe yang mana nih? Social mediamu kau gunakan untuk personal branding dan membuat konten juga?

Buat kamu yang tipe faceless content creator, apa strategimu untuk menaikkan akunmu? Boleh dong berbagi di kolom komentar. Apa kamu berminat jika saya menulis tentang strategi faceless content creator? Kebetulan saya baru baca e-book terjemahan tentang faceless digital yang lagi booming di luar negeri. Sambil baca sambil praktek di akun percobaan. Menarik nggak sih menurutmu?




























Hellosehat.com







2 comments

Ingin memberi tanggapan atau saran? Silahkan drop di comment box. Terima kasih!
  1. Laaah ... Udahan artikelnya? Kirain ada cara bikin konten faceless-nya. Hayuk, ndang ditulis. Aku siap menyimak 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaaa...bertahap doong, biar penisirin ^^

      Delete