Ganti Judul dan ALt sendiri

Mengajarkan Anak Konsekuensi Ketika Sakit

Merawat anak ketika sakit

Saat anak sakit, kerepotan orang tua bukan hanya mengurus si kecil yang lemah dan merawat segala kebutuhannya. Hal yang tak kalah repot menurut pengalaman saya adalah mengajarkan anak konsekuensi ketika sakit.

Sore itu, sekitar dua pekan lalu, suami pulang kerja. Dengan sumringah dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, ditunjukkan kepada kami yang tengah berkumpul di ruang keluarga. Apa yang dibawanya? Sebotol antibiotik suspensi kering.

Apa maksudnya ini???! Demi melihat produk yang akrab di masa lalu itu saya terdiam sambil menatap suami penuh selidik. Pak Su lantas menjelaskan bahwa dia baru saja dari apotek beli obat itu untuk anak-anak. Taman apoteknya yang memberikan saran untuk pake obat itu untuk obat diare anak. Cukup diberi air mineral, dikocok, dan diminumkan 3 kali sehari.

Iya..iya..saya tau lah gimana cara ngasih obat itu ke anak. Gini juga pengalaman jadi nurse buat dua kesayangan, kakak dan mas. Tapi maksud saya kenapa ujug-ujug pake obat? Udah mulai keluar sewotnya ni si Ummi.

 Ini bocah-bocah ga pernah minum obat. Trus kita bakalan treatment mereka dengan obat gitu? Saya ga komplain soal zat kimianya ya. Kita bukan anti sama obat kimia. Obat mau herbal mau kimia, medis non medis, asal bikin sembuh dan halal oke-oke aja. Tapi kita ga punya pengalaman membujuk dua anak ini minum obat. So, ini bakal jadi yang pertama gitu?

Bapaknya anak-anak bersikukuh akan memberikan obat itu ke anak-anak. Saya melihat keseriusannya. Sakitnya anak-anak memang sudah masuk hari ke-empat. Belum ada perbaikan signifikan. Ditambah lagi ini tumben banget pada susah disuruh minum madu dan habbats. Jadinya ada kekhawatiran malah tambah parah.

Saya juga sudah capek sih ngurus gunungan celana kena cairan diare dan bekas muntahnya dua anak ini. Ditambah lagi pada susah makan semua, alhasil badannya kelihatan banget susutnya.

Tapi mau ngasih obat pait? Yang bener aja? Itu masukin ke mulut anak kan obatnya? 3 kali sehari pula? Lha apa nggak nggujer plus nyekokin? Masuknya susah trus dimuntahin juga pastinya? Ahhh...bayangan drama minum obat beberapa tahun lalu mendadak hadir kembali. Tak mau lagi....teriakku dalam hati.

Tapi ni suami saya kalau dalam urusan pengobatan, jika sudah ambil keputusan nggak mau ditawar-tawar lagi.

Masih ingat saat dia memutuskan merawat luka anak nomer 2 yang jatuh akibat aneh-aneh aksi nggandol motor tetangga. Pahanya luka sampai terlihat putih dagingnya. Dirawatnya, ditlateni pake madu dan habbats oil. Ini cerita ketika kami belum tau kalau bisa mengobati luka terbuka dengan minyak zaitun. 

Jadi lukanya mas diperban dan diganti tiap hari. Dihibur terus anaknya, disenengin. Ga mau dibawa ke faskes soalnya kakaknya pernah entah salah rawat atau gimana malah lukanya bernanah dan berkeloid.

Nah ini lukanya biidznillah membaik. Akhirnya sembuh dan kulitnya sampai nutup halus mulus hampir tanpa bekas.

Waktu masa pandemi seisi rumah sakit, entahlah sakit apa. Dibilang covid wong kami nggak tes lab. Sakitnya ga seperti biasa. Saya ambruk ga bisa ngapa-ngapain. Masih menyusui baby 6 bulan dan panas juga badannya. Sementara 2 anak lainnya demam juga. Yang kecil sampe kayak kehilangan kesadaran, diajak ngomong lambat responnya.

Kami ga berani ke RS karena sedang full dan mencekam. Di samping itu karena takut dengan situasi di luar, juga karena nggak kuat bangun. Kami berempat dirawat suami seorang diri, bergantian. Alhamdulillah Allah beri kesembuhan meski butuh waktu.

Hal lain kengototannya soal pengobatan adalah masalah bekam. Dulu dia bekam datang ke terapis. Lha kok tiba-tiba dia beli peralatan bekam dan menyuruh saya latihan mbekam. Apa-apaan sih, awalnya saya ga mau dong.

 Tapi dia membujuk, merayu-rayu terus. Katanya ga suka kalo habis dibekam badan abis ditusuk-tusuk trus masih harus perjalanan pulang. Ga enak, maunya langsung tidur. Iya benar sih alasannya, bisa diterima.

Ya, akhirnya meski dengan terpaksa saya latihan mbekam. Dan jadilah saya terapis bekam pribadinya. Tentu saja saya ga berani praktek ke orang lain meskipun perempuan. Namanya juga terapis by request.

Nah ini, ketika tiba-tiba Pak Su memutuskan untuk merawat anak-anak pake obat kimia setelah bertahun-tahun kami hanya memberinya madu dan habbats, bisa dipastikan kalau dia SERIUS.

Meski ngedumel akhirnya saya manut juga. Salah saya juga kenapa nggak bisa membujuk anak-anak minum madu kayak biasanya. Ini juga anak-anak bikin kesel aja. Kan, jadinya kalian yang harus terima akibatnya. Selamat mencoba obat pait, my dear!

Berikutnya adalah briefing tentang pengenalan obat antibiotik kepada dek Sal, si 6 tahun yang akan diajari minum obat pait. Saya ingat memberinya puyer terakhir kali waktu masih usia beberapa bulan.

Meski sudah diberi penjelasan soal obat barunya, tetep aja perlu gujer-menggujer, cekok-mencekok, penambahan gula seabrek, dan diakhiri dengan muntah-muntah. Dan acara minum obat terpaksa harus diulangi. Ya Allah, gini amat susahnya...

Saya bersyukur selama ini Allah beri petunjuk dan kemudahan sekeluarga cocok dengan pengobatan herbal dan bisa sering kembali sehat tanpa obat. Jadi ngerasain bertahun-tahun urus anak sakit ya tinggal elus-elus, istirahat, sama dikasih obat manis aja. Ga pake tusuk-tusuk dan acara meriang-meriang ngantri di ruang tunggu dokter seperti masa-masa sebelumnya.

Sekarang, apa suamiku yang penyayang keluarga itu mendadak kangen masa lalu? Ga lihat apa istrinya udah bawaan ngomel-ngomel aja nih. Sampe nulis gini juga vibes nesu-nesunya masih kebawa kan? Mau dibawa kalem aja saat menuangkan isi hati gini, ga bisa juga. Subhanallah 

Alhamdulillah adeknya diizinin Pak Su ga minum obat pait. Anaknya udah ga demam dan ga muntah, tinggal diare aja. Trus sudah mau dibujuk minum madu. Jadinya ketegangan bersama si obat ga perlu terjadi padanya.

Cara meningkatkan imunitas tubuh


Untuk dek Sal yang ditraetment sama obat, baru berhasil dia minum obat pait langsung lhek..itu saat terakhir menjelang obatnya habis, pas dia udah mau sembuh. Akhirnya dek..kamu dah lulus latihan minum obat, sayang...

Kakak pertamanya, sampai gedhe belum naik kelas skill minum obatnya. Ketika terpaksa harus minum obat, misal parasetamol atau asam mefenamat pas lagi sakit gigi, dia minumnya masih harus digerus dan dikasih air kayak puyer. Ga bisa nelan tablet dia. Tapi ya udah mandiri, ga perlu disuapin obat lagi.

Nah, setelah pengalaman minum obat pait bagi dek Sal, saya jadi menambah list edukasi bagaimana mengajarkan anak konsekuensi saat sakit.

Saya tulisin ini buat nanti dispill lagi kalau kalian menghadapi masalah yang sama ya dek. Ini seperti yang Ummi soundingkan berulang-ulang kemaren.

Di keluarga kita, kalau sakit atau mulai merasakan tanda-tanda mau sakit seperti lemes, badan sumer, tenggorokan gatal atau panas atau serak, sudah harus lakukan protokol kesehatan.

1. Wajib istirahat. Ga boleh main keluar. Di rumah main yang ringan-ringan saja. Ga boleh lari-larian. Ga boleh panjat-panjat pohon apalagi panjat pagar. Ga boleh basah-basahan di kolam. Ga boleh panas-panasan main di belakang.

2. Harus tidur siang. Kalau sehari-hari susah banget tidur siang, harus mau dikeloni dan berusaha merem.

3. Harus banyak minum air putih.

4. Harus mau makan banyak. Ini sih ga bisa maksa. Biasanya kalo sakit otomatis kami menawari aneka makanan bergizi dan enak. Tapi biasanya si yang biasanya lahap makan tiba-tiba mogok makan. Atau makan dikit trus berujung muntah.

5. Harus mau minum madu dan habbats 3 kali sehari.

6. Kalau ga mau minum madu dan sampe sakitnya kasep, kamu sudah tau sendiri akibatnya. Abi ga segan-segan belikan obat pait ya. Wajib diminum!

7. Masih muntah-muntah minum obat, coba lagi minum madu sama habbats. Kalo sakitnya ga kunjung membaik, kamu harus mau dibawa ke dokter. Tau kan rasanya badan sakit, lemes harus antri dokter lama.

8. Obat dari dokter wajib diminum ya. Kalo ga sembuh, tar dokter bisa nyaranin tes lab loh. Itu artinya harus mau disuntik di lengan, diambil darahnya. Digujer sama suster kayak kakak dulu.

9. Kalau ada indikasi infeksi parah, bisa disuruh rawat inap sama dokter. Itu berarti harus mau diinfus. Tau kayak apa diinfus? Disuntik pake jarum yang terhubung dengan selang dan diikat. Ga boleh gerak-gerak, ga bisa jalan ke mana-mana. Bobok di kasur aja.  Rasanya kayak apa? Tanya sama kakak dan mas.

Mengembalikan imunitas saat sakit


Dulu kakak dan mas waktu kecil pernah dirawat bareng gara-gara batuk pilek ga sembuh-sembuh. Zaman dulu sebelum Abi ummi belajar minum madu.

Demi menyadarkan si kecil untuk paham tentang imunitas tubuhnya, ga bosen ya kita sebagai orang tua ngasih tau begini begitu urusan menjaga kesehatan.

Ini rada bawel banget sebenarnya karena si adek sudah mulai ga nurut jalani prokes keluarga. Jadinya seisi rumah kena repot.

Tapi ada baiknya juga dia jadi belajar tau dan ngalami sendiri akibat dari ga segera minum booster buat jaga kesehatannya waktu udah jelas sakit. Dan masih jaga tawar-menawar buat main, buat ga tidur siang.

Pelajaran sudah diambil. Semoga anak-anakku sayang ingat masa sakit kemaren itu yang jadinya ga enak banget.Semoga ga diulang lagi ya, Nak! Maafkan juga Ummimu yang malah suka ngamukan kalo kalian ga mau nurut "dimanjakan" ketika sakit.

Mengajarkan kepada anak konsekuensi ketika sakit selalu saja ada tantangannya. Namanya anak-anak kan pinginnya serba enak serba mudah. Dan orang tua yang bagaimana pun sudah makan asam garam pahit manis keadaan, ya lagi-lagi harus menguatkan rasa sabar. Membimbing mereka, membuatnya memahami sesuatu memang butuh repitisi dan pendampingan. Kalau Ayah, Ibu, apa ni tantangan yang paling diingat saat mengajarkan anak konsekuensi ketika mereka sakit? Bagi di mari dong cerita serunya, siapa tau bisa jadi inspirasi bagi orang tua lain. Terima kasih ya sebelumnya.

 

 

 

 

6 comments

Ingin memberi tanggapan atau saran? Silahkan drop di comment box. Terima kasih!
  1. Duh, 180 derajat keluarga kita. Kalau paksu begitu sakit ya harus minum obat. Alhamdulillah anak-anak gak banyak drama minum obat, karena biasanya obatnya ya sirup manis 😁 Di bungsu juga kalau lihat kakaknya minum obat dia jadi ikutan gampang, gak pake drama ngujer πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku selalu kagum sama cerita anak-anak yang doyan banget sama obat, terutama puyer. Bagiku suatu keajaiban duniaπŸ˜ƒ

      Delete
  2. Wah jadi keinget momen anak sakit dan sakitnya itu diare mb. Ini kok sampai 4 hari diarenya. Anak saya pas sehari semalam muntah2 itu cemas luar biasa. Apalagi soal pemahaman kesehatan memang ampas. Ternyata kena infeksi. Padahal sebelumnya dah sakit seminggu dan minum antibiotik suspensi kering gitu jg. Tapi malah habis sembuh malah ada aja sakit yg datang lagi. Tapi beneran kalau anak sakit konsekuensinya orang tua jg nggak tenang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas anak masih satu, begitu sakit ya langsung ke dokter mbak. Selalu takut dg segala bentuk infeksi. Kalo ke dokter, Belum dikasih obat pun hati dah tenang. Lama-lama ya mulai mengenali dan tau apa yang dibutuhkan anak sakit. Kapan harus dirawat sendiri, dan kapan harus segera dibawa ke dokter.

      Delete
  3. Paling sedih kalau anak lagi sakit, kayak mending kita aja yang sakit. Tapi Alhamdulillah baik si kakak ataupun adik waktu sakit minum obat juga gak pakek drama. Apalagi anak yang nomor 2, semangat banget waktu minum obat, apalagi kalau sakitnya barengan sama si kakaknya. Tapi kalau udah ngerasa sehatan dikit udah susah diminta istirahat 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waa ini keajaiban dunia lain mbak. Pinter banget anak-anaknya mau nurut minu obat. MaasyaAllah

      Delete